Googleisme dan Isi Otak Kita

Oleh: Muhammad Afthon Lubbi
[Ketua Bidang Sosial Keagamaan PP GNKRI 2017-2022]

Ketika menulis artikel ini awal tahun 2018, saya teringat dengan perdebatan panjang di ujung akhir tahun. Meski tidak seramai di dunia maya, tema perdebatan ternyata menghidupkan suasana di berbagai sudut dan pertigaan gang, kedai kopi, café dan tempat lain di mana orang-orang berkumpul menghabiskan waktu yang masih tersisa.

Perdebatan merupakan hal positif. Itu jika dilakukan oleh orang yang kompeten dalam bidang yang dijadikan tema. Referensi yang luas dapat membawa kubu-kubu yang berdebat ke ruang pemikiran baru, bahkan mampu menghasilkan pemikiran orisinil dan membantu membuka kotak hitam perdebatan.

Sayangnya, perdebatan online yang berpindah ke offline dewasa ini tak lebih dari perang urat syaraf semata; tidak memiliki pangkal dan ujung. Dan bisa dipastikan hasilnya adalah “kelelahan”.

Budaya membaca yang menjadi syarat kemajuan peradaban pun telah tergeser. Buku-buku lebih sering diperbincangkan daripada dibaca. Manusia lebih sering menghabiskan waktunya untuk hanyut dalam dunia maya. Menulis status, membaca artikel, berkeluh kesah, memberi ucapan, menyebar berita dan sebagainya.

Semuanya hanya dilakukan cukup dengan satu klik di hyperlink. Bahkan mereka yang sadar dan kritis terhadap ancaman internetpun sering ter-ninabobo-kan oleh berbagai tawaran kemudahan dunia maya.

Nampaknya teori “Ritualized Media” semakin mendapatkan banyak bukti. Ketika mesin pencari Google menjadi sumber utama ilmu pengetahuan dan media sosial menjadi ring tinju pertarungan sudut pandang, maka pada titik ini peradaban manusia dalam tanda tanya besar: mengalami kemajuan atau kemunduran?

Pertanyaan ini pula pernah diajukan oleh Nicholas Carr dalam bukunya “The Shallows”: apakah internet mendangkalkan cara berpikir kita? Jawabannya tidak mudah. Bukan seperti mengatakan iya atau tidak sebagaimana yang sering kita lakukan di media sosial, like and comment.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, penting rasanya kita memutar memori kita tentang laju perubahan ilmu pengetahuan. Ada perbedaan besar pada waktu yang dibutuhkan dalam evolusi teknologi. Menurut catatan Dr. Ninok Leksono, dibutuhkan berabad-abad untuk membuat mesin uap setelah manusia menggunakan kuda untuk alat transportasi dalam waktu yang sangat lama. Kemudian dari mesin uap ke pesawat terbang membutuhkan waktu dua setengah abad. Dari pesawat baling-baling menuju jet terbang membutuhkan tiga dekade, dan dari jet ke jet supersonik hanya membutuhkan waktu belasan tahun.

Perubahan besar juga terjadi pada teknologi informasi dan komunikasi. Keinginan manusia untuk meningkatkan mobilitas dan hasrat untuk selalu bersosialiasi dan tetap terhubung telah mendorong lahirnya teknologi-teknologi baru yang mewujudkan semua mimpi manusia di masa lampau. Namun, setelah impian itu tercapai, masalah-masalah baru pun bermunculan.

Manusia seperti belum siap menerima kenyataan lipatan kecepatan ini. Meskipun manusia yang menciptakan komputer, kemampuan otak manusia yang serial tertinggal jauh dengan kemampuan otak komputer yang paralel. Otak manusia mudah lupa dan tidak mampu menyimpan angka-angka yang panjang nan rumit. Sedangkan komputer tidak hanya mampu merekam terabyte data, akan tetapi mampu memutar dokumen panjang berupa file suara dan gambar.

Pertanyaan kita: bagaimana agar tidak hanyut dalam era banjir infomasi ini? Bagaimana pula cara agar nurani dan pikiran tetap memegang kendali dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam pekerjaan, kehidupan rumah tangga maupun kehidupan sosial lainnya. Pada masa ini, otak manusia ditantang untuk menyesuaikan diri dengan limpah ruah informasi dan tetap tidak mengalami kemunduran peradaban di tengah-tengah kemajuan teknologi yang dibuatnya sendiri.

Pertanyaan di atas pernah dijawab oleh Joe O’Shea. “Saya tidak membaca buku,” begitu katanya. Mantan Ketua Perserikatan Mahasiswa Florida State University ini meyakinkan publik bahwa manusia mampu menyesuaikan diri dengan laju era informasi yang terlampau cepat ini. “Saya membuka Google, dan saya mampu menyerap informasi yang saya butuhkan dengan cepat,” lanjut O’Shea, mahasiswa ilmu Filsafat itu.

O’Shea merasa tidak perlu membuka bab-bab dalam buku. Karena dengan Google Book Search ia dapat menemukan apa yang dibutuhkan dalam waktu yang super cepat. Dengan begitu, menurutnya duduk diam dan membolak-balikkan lembaran buku tidaklah masuk akal.

Kesimpulan dan jawaban sementara O’Shea ada benarnya. Kita bisa memanfaatkan waktu dengan mendapatkan informasi lebih cepat melalui layanan internet. Akan tetapi kesimpulan ini dibantah oleh penelitian yang dilakukan Genera. Lembaga penelitian dan konsultasi ini merilis hasil penelitian tentang efek penggunaan internet pada remaja. Enam ribu remaja diwawancarai untuk mengetahui bagaimana mereka menyerap informasi. Hasilnya mengejutkan!

Kesimpulan Genera: generasi ini tidak lagi membaca buku dari kiri ke kanan atau sebaliknya, dan tidak pula dari atas ke bawah. Mereka hanya melompat-lompat dan memindai informasi yang diinginkan. Ada yang fatal dalam diri kita, hilangnya kesabaran, ketekunan, dan ketelitian dalam membaca.

Kita boleh tidak setuju, tapi nyatanya ketenangan dan kejernihan dalam membaca buku berkurang dan bergeser kepada “diskusi jari” di dunia maya yang terbatas. Mungkin jika otak kita dibelah, maka bakal dapati saraf-saraf di dalamnya tidak hanya mengalami pembesaran tapi hanya berisi rekaman beberapa kata dan nama berulang-ulang dan hanya itu-itu saja: Cina, Ahok, Anies, Jokowi, Prabowo, dan Habib Rizieq. Kalau tidak cukup dengan install ulang otak, mungkin kita perlu tukang reparasi. Atau ganti dengan yang baru? #GNKRI

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *