Mutasi Keintiman Diri Menuju Intimasi Negeri

Oleh: Iif Fikriyati Ihsani

Ini adalah nasihat luar biasa yang diberikan mantan mahasiswa saya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI). Pertemuan kami sangat tidak disengaja, tetapi perbincangan kami seperti pertemuan yang sudah lama terjadi.

Saya menyadari bahwa seorang mahasiswa pun di titik tertentu adalah guru bagi dosennya sendiri. Dan berapa banyak pada dosen merasakan hal yang sama.

Perbincangan kami dimulai dari basa basi sederhana. Tentang kabar, tentang pertanyaan kenapa saya tidak mengajar lagi di UI, tentang perdebatan dan diskusi kelas dan sebagainya. Saat saya sampaikan tidak lagi mengajar di UI, dia tidak hanya terkejut, tapi juga menyayangkan kenapa saya berhenti.

Namun setelah mendengar penjelasan panjang lebar, dia tersenyum dan berkata, “Kadang-kadang kita harus menerima sesuatu yang digariskan oleh Tuhan, meski itu tidak kita sukai.”

Saya pun menimpali, “Bukan hanya sekedar menerima, tetapi juga beradaptasi dengan apa yang harus dijalani seperti saat ini.”

Dia tersenyum. Dengan suaranya yang berat, dia lantas menyimpulkan, “Ibu sudah benar-benar beradaptasi.”

“Maksudnya bagaimana,?” tanya saya.

“Ibu seperti bukan dosen lagi, ibu betul-betul sudah membaur dengan dunia ibu sekarang,” jawabnya singkat.

Saya menghela nafas panjang mengingat bagaimana semua proses harus dilewati untuk menerima kondisi sebagai pilihan. Menerima kenyataan untuk mundur dari mengajar, duduk di belakang meja sebagai pegawai biokrasi, sungguh bukan hal mudah.

Menjadi staf pengajar di UI kurang lebih enam tahun, 2009-2014, lalu duduk di balik meja di civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Menjadi abdi negara dalam biokrasi—hari ini dinamakan aparatur sipil negara (ASN)—sekilas memang identik dengan sesuatu yang kaku.

Di lingkungan kampus dan lembaga pendidikan formal, ASN Fungsional dengan mengajar di kelas dengan ASN Struktural dengan kerja di balik meja, seperti tarik-menarik tambang.

Mengajar di kelas, membuat seseorang bicara kepada dirinya sendiri untuk menjadi “role model” peserta didik. Apakah kemudian itu berarti menciptakan “image” tentang bagaimana seorang guru dan dosen menjadi panutan?

Hukum pendidikan mengatakan demikian. Pendidik bukan sekedar pengajar dan pembimbing, tapi penginspirasi. Di negeri ini juga berapa banyak ditemukan berbagai impresi bahwa “mengajar setahun, menginspirasi seumur hidup”.

Terlebih bila siswa/mahasiswa baru menemukan sesuatu yang baru dalam cakrawala berfikir dan pengalaman mereka sebagai khazanah fase kehidupannya.

Lain soal bila duduk di belakang meja. Bertemu dengan orang yang sama setiap hari, berinteraksi dalam pekerjaan rutin, dikerjakan ke dalam teamwork. Itu sama sekali berbeda bila dibanding dengan berdiri di kelas.

Menjadi pengajar berarti tegak berdiri sebagai perantara keilmuan, meski bisa duduk setara. Berbeda di lingkup kerja belakang meja, orang yang sama dalam ruangan adalah tim kerja.

Lebih mudah bicara teori tentang teamwork daripada menjalankannya, dan saya hampir menyerah di tiga bulan pertama saat kembali ke balik meja. Mundur dari semua kegiatan mengajar seperti separuh jiwa pergi.

Ternyata, kunci di lapangan kerja dan pengabdian, di semua bidang apapun dan di semua lingkungan berikut dengan segala tantangannya adalah afirmasi diri dengan melibatkan diri secara aktif demi sesuatu yang terbaik dalam menata sekaligus mengubah situasi menjadi lebih baik.

Rutinitas diubah menjadi sesuatu gerak perubahan dan konsisten menjaga perubahan yang ada dengan meningkatkan sekaligus menyegarkan kembali untuk fase berikutnya. Itulah kenapa sampai di bulan ketiga saat menjadi ASN UIN Jakarta, saya menemukan banyak hal luar biasa dalam setiap interaksi antar sesama pegawai.

Saya belajar tentang bagaimana pertemuan kami setiap hari, membuat kami seperti satu keluarga besar. Kami semua ajeg atau luwes menyampaikan segala hal—meski menyentuh topik sensitif—karena kami belajar menerima perbedaan.

Pertemuan setiap hari membuat kami saling mengenal, mempengaruhi. Tekanan demi tekanan pekerjaan, justru membuat kami belajar cara saling menghibur satu sama lain. Sebuah cara yang sama sekali tak pernah terbayangkan ketika saya menjadi pengajar.

Saya pada akhirnya mempelajari satu hal penting, yang tidak pernah saya dapatkan selama mengajar, bahwa membangun teamwork pada hakikatnya adalah membangun keluarga, dan membangun keluarga sesungguhnya adalah membangun kenyamanan antar sesama.

Maka, perlahan paradigma yang saya miliki sebelumnya berubah sejalan dengan kehidupan saya yang baru: bekerja di balik meja. Tidak berarti saya berubah dan kehilangan jati diri. Saya masih tetap mengajar di berbagai pelatihan bersamaan dengan rutinitas bekerja dari balik meja.

Situasinya persis seperti ketika hendak balik dari kantor ke rumah: dari keluarga besar di kantor ke keluarga kecil mendasar di rumah. Tentu semua itu ada batasannya dalam berekspresi. Saat berada di kelas ada ekspresi yang tak serupa saat berada di ruang kerja kantor. Sama halnya saat di rumah, ada ekspresi berbeda dengan saat berada di luar rumah.

Namun apapun perbedaan dan batasannya, diikat oleh satu kesamaan sebagaimana filsafat Heraclitus, diperkenalkan Herakleitos, seorang filsuf Yunani Kuno dari Efesus di zaman pra-Sokratik.

Hereclitus tak lain pemikiran melebur bersama situasi dan cara terbaik untuk melebur. Dan dalam peleburannya selalu menjadi bagian di dalamnya. Tentu dengan tingkat keintiman dan kenyamanan dalam menempatkan diri.

Mantan mahasiswi saya di UI tadi adalah perempuan bernama Annisa Ramadhani. Dan refleksi ini muncul justru berkat pertanyaan Annisa Ramadhani.

Seolah saya sedang bicara dalam hati karena cukup lama terdiam, Annisa menyadarkan lamunan saya dengan sebuah pengajaran. “Ibu tau, dalam diri setiap orang, semua punya ‘female side’ dan ‘male side’. Sisi feminine dan maskulinitas yang hidup dan mendorong semua perilaku kita.”

Saya menggeleng tidak tahu seperti apa persisnya, meski saya mengenal istilah otak Mars dan Venus yang menggambarkan situasi penjelasan Annisa.

Dengan senyum, ia lanjutkan paparan, “Tingkat male side ibu sudah terlalu tinggi, ibu melebur melebihi kapasitasnya, dan dengan kondisi ibu sekarang yang juga harus memerankan diri sebagai seorang ayah, male side ibu terus tumbuh, sedangkan female side ibu terus menurun.”

Saya terkejut. “Apakah itu berbahaya,?” saya bergegas bertanya.

“Sebenarnya tidak,” jawabnya singkat.

Saya tertegun. Lantas belum sempat saya bertanya lebih, Annisa melanjutkan apa yang hendak ia sampaikan.

“Karena saya mengenal ibu, maka saya tak ingin kehilangan sosok yang pernah saya kenal. Kembalilah mengajar bu,” ujarnya dengan nada lirih dan rasanya menusuk tajam.

“Sisihkan waktu ibu untuk mengajar agar hidup ibu seimbang. Jika tidak, akan ada titik tertentu dimana ibu kelelahan dengan diri sendiri, dan itu akan mendorong ketidakseimbangan emosi,” sambungnya bernada seorang psikolog sambil menggenggam tangan saya.

Ketawa saya pecah. Karena saya menyadari betul nasehat sekaligus permintaannya itu tulus. Saya menyambut genggaman tangannya. “Saya memang rindu mengajar di kelas, rindu berdiskusi bersama kalian, dan doakan saya agar saya bisa mengajar lagi secara rutin,” ucap saya.

Usai pertemuan itu, saya menerjemahkan refleksi pertemuan tersebut dengan situasi yang justru jauh lebih luas dan kompleks bernama ruang Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Di semua bidang apapun anak negeri bekerja dan mengabdi: afirmasi pelibatan dan peleburan diri di lingkungannya di berbagai skala, tak lain berbuat saja yang terbaik. Tantangannya memang serunyam persoalan yang ada dan bakal lebih runyam bila situasi kian memburuk.

Tapi sebetulnya, persoalan terdekatnya justru afirmasi ala Heraclitus: seberapa intens dalam diri seseorang melibatkan diri, lalu seberapa intim menempatkan diri untuk mencapai yang terbaik itu.

Jangan-jangan: pergolakan negeri hari ini terjadi justru tingkat intensitas dan keintiman berbuat yang terbaik itulah itu yang sangat rendah. Atau sebaliknya, cukup intens tapi tidak intim. Itulah kenapa afirmasikan dulu diri. Dalam persoalan paling mendasar, kerangka teologisnya: kenali diri maka akan mengenali Tuhan.

Kualitas keintiman sosial yang rendah pasti dilakukan menurut kehendak keintiman individu dan golongannya masing-masing; tanpa mampu menciptakan rasa dan karsa laiknya keluarga besar Indonesia.

Persis seperti ketika Anda berada di kantor: seolah skat meja kerja juga memisahkan kolektivitas sebagai tim kerja. Maka bagaimana mungkin tercipta solidaritas. Yang ada cuma soliter. Dialektika dianggap sebagai permusuhan, bukan dalam rangka mencapai kualitas. Gawat!

Buruknya pemisahan kolektivitas—apakah berbentuk kooptasi atau egosentris—persis seperti hukum jagat raya yang lagi solid. Dalam keyakinan Taoisme misalnya pada ‘Yin’ (bumi) dan ‘Yang’ (langit).

Yin yang disimbolkan dengan female side dan Yang disimbolkan dengan male side tidak lagi menjadi kesatuan kerja jagat raya. Maka bagaimana mungkin mendekati kesempurnaan (Tao). [] #GNKRIPusat

*Sekjen PP GNKRI (Gerakan Nasionalis Kebangsaan Rakyat Indonesia)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *