Cara Bedebah Atwater Menular Ke Indonesia Laksana Air Bah

Oleh: Alfi Rahmadi*

Tidak ada orang yang paling bedebah di AS abad pertengahan 19, tulis peneliti senior World Policy Institute, Eric Alterman, kecuali nama satu ini: Lee Atwater. Seorang spin doctor yang mengubah wajah Pemilu AS dengan mengobrak-abrik UU Hak-Hak Sipil yang disahkan pada 1960-an di era Presiden Lyndon Johnson dari Partai Demokrat.

Civil Rights Act atau UU Hak-Hak Sipil itu sejatinya menjadi tambatan publik AS untuk mengakhiri luka diskriminasi ras kulit hitam di negeri Paman Sam. Tapi dibuka kembali oleh Atwater melalui perannya sebagai konsultan politik utama sejumlah calon gubernur dan presiden.

Di Selatan, Atwater spesialis menangani kandidat dari Partai Republik. Di level negara bagian, debutnya saat membesut Ronald Reagen hingga terpilih sebagai Gubernur California 1967-1975 dan membawa mantan aktor itu ke kursi AS-1 periode 1981-1989 menggantikan Jimmy Carter dari Partai Demokrat. Pada periode tersebut, wakil pendamping Presiden Reagan dijabat George Herbert Walker Bush atau Bush Senior.

Awalnya, Reagan berasal dari Partai Demokrat. Tapi sejak 1962 membelot ke Partai Republik. Dalam operasinya, Atwater menyerang justru pada titik utama kekuatan lawan dari klien yang dia kelola. Ketika para pejabat dan politisi AS menghindari isu rasial dengan menegakan Civil Rights Act dan dipantau ketat oleh kelompok aktivis HAM, Atwater mengirim pesan penting secara lunak.

Para ahli politik perilaku (political behavior) dan ahli komunikasi di bawah kendali Atwater melancarkan operasi paling menjijikan karena memecah belah bangsa Amerika lantaran mengeksploitasi isu rasial tersebut.

Mereka menggunakan taktik bandwagon effect atau efek ikutan yang bisa menarik persepsi massal atau gerbong kelompok dari isu yang direkonstruksi. Tim Atwater melakukan generalisasi berbagai tindakan kriminalitas orang kulit hitam di berbagai penjara di negara bagian AS. Seolah-olah kehadiran mereka menjadi ancaman orang kulit putih.

Padahal, sebagai kelompok minoritas, populasi pelaku kriminal lebih banyak dilakukan orang kulit putih sebagai mayoritas. Tapi Lee Atwater sukses melakukan generalisasi tersebut. Karena objek eksloitasi isunya adalah kriminal narkoba yang massif tersebar di AS.

Bukan kebetulan pengedarnya didominasi orang kulit hitam. Dan jenis kejahatan tersebut memang berefek berganda: dari pencurian sampai pembunuhan.Padahal otoritas keamanan AS bukan tak tahu kejahatan narkoba dilakukan orang kulit hitam justru akibat kebijakan diskriminatif pemerintah AS yang dahulunya mempersempit hak-hak orang kulit hitam dalam pendidikan dan lapangan kerja.

Atwater sukses memanipulasi realitas dengan membentuk framing bahayanya orang kulit hitam. Ia mencomot berbagai penggalan kasus kriminal orang kulit hitam, lalu merekonstruksinya secara tematik melalui konten narasi yang ia tebar di berbagai pamplet. Konten tersebut distel sesuai arah narasi kampanye kandidat yang dikelola Atwater melalui misi melindungi segenap rakyat AS dari bahaya.

Narasi konten penggalan kasus kriminal orang kulit hitam tidak disampaikan secara vulgar. Atau menohok langsung dengan menyebut orang kulit hitam sebagai ancaman keamanan nasional. Tim Atwater hanya mengirim pesan terselubung dengan narasi yang lunak sebagai kode ancaman. Semisal “stabilitas nasional” atau “kerawanan sosial”.

Erick Alterman dalam artikelnya “G.O.P Chairman Lee Atwater: Playing Hardball”, terbit di New York Times edisi April 1989, mengulas idiom komunikasi politik dengan manipulasi realitas ala Atwater itu sebagai operasi “siulan anjing” (dog whistle politics) yang frekuensi suaranya bisa didengar melalui siualannya.Tapi saya lebih suka menggunakan istilah langsung “gonggongan anjing” di malam hari.

Sebab, setiap kali orang mendengarnya, pasti di kepalanya terekam adanya ancaman keamanan. Seperti pencurian dan sebagainya, tanpa peduli si anjing sedang kawin atau tengah bersaing memperebutkan betina.

Prestasi Atwater yang paling tersohor ketika menangani kampanye Bush Senior tahun 1988. Bisa di bayang, elektabilitas Bush sebelum pemilihan tak tembus 20 persen. Kampanye-nya kacau balau. Jauh di bawah rivalnya, Michael Dukakis, Geburnur Massachusetts. Namun Bush Senior membalik keadaan ketika Atwater memainkan taktik paling bedebah yang belum pernah digunakan di masa sebelumnya atau di masa menangani Ronald Reagen.

Pada Pilpres Bush vs Dukakis 1988/1989, Atwater menemukan momentumnya ketika Dukakis dari Partai Demokrat dikenal sebagai tokoh anti-hukuman mati. Bila terpilih, ia akan menerjemahkannya sebagai kebijakan publik. Bagaimana Atwater melancarkan operasi bedebahnya pada Pilpres tersebut?

Banyak sekali peneliti AS mengkaji taktik terjorok Lee Atwater di masa itu. Selain Eric Alterman, juga dapat disimak dalam literatur abad milenial, antara lain kajian Ricky Hill. Judulnya “The Race Problematic, the Narrative of Martin Luther King Jr and the Election of Barack Obama” dalam Souls: A Critical Journal of Black Politics, Culture, and Society, Maret 2009.

Dua peneliti itu mengulas, momentum jalan pintas Pilpres AS 1988 ditemukan Atwater ketika Dukakis menyetujui hak terpidana hukuman seumur hidup menghirup udara di luar Lapas pada akhir pekan. Termasuk dalam hal remisi bagi terpidana jenis kejahatan lainnya.

Momentum tersebut terhubung dengan momentum pamungkas kasus Willie Horton, seorang imigran AS terpidana hukuman seumur hidup. Ketika Horton menghirup udara di luar Lapas pada akhir pekan, ia menyerang sepasang kekasih dan memperkosa pasangan perempuan.

Tim Atwater membeli video pemberitaan kasus tersebut, lalu mengeditnya menjadi sebuah narasi iklan. Hasilnya, editan yang direkonstruksi Atwater mengirim sebuah pesan: alangkah terancamnya keamanan rakyat Amerika Serikat bila Dukakis terpilih sebagai presiden.

Sebagai populasi mayoritas, kontan saja orang kulit putih mengalih dukungannya kepada Bush Senior. Tapi tak sedikit terdapat anggapan momentum Horton sengaja diciptakan. Horton seolah-olah didorong oleh tim Atwater untuk menciptakan momentum pamungkas.

Di abad milenial, isu rasial pada akhirnya menjadi komoditas politik di AS di setiap Pilpres. Senator John McCain tahun 2000 dan John McCain tahun 2004 sudah merasakan getah kekalahan diserang isu rasial. Hingga kelak berbalik menjadi kemenangan Barack Obama yang berkulit hitam, pertama dalam sejarah politik AS.

Di Indonesia, praktik bedebah Atwater benar-benar mengalir pada Pilpres 2014 seperti air bah. Anehnya, Jokowi dan Prabowo Subianto seolah-olah “menikmati “ isu SARA yang saling beroperasi menyerang kedua belah pihak. Jokowi yang baru dikenal publik luas kala itu diserang dengan isu anak haram, anak PKI, anak Kristen dan sebagainya.

Sebaliknya Prabowo diserang justru dengan isu kebalikannya Jokowi. Putra Soemitro Djojohadikoesoemo itu dicap anti-Kristen dan anti-China. Lebel ini menyeruak di gereja-gereja. Termasuk dicap penganut sinkretis atau multi-agama, lantaran sejumlah keluarganya penganut Kristiani.

Parahnya, lebel menjijikan itu diteruskan oleh operator jagoan keduanya di Pilkada DKI Jakarta 2017 hingga memvirus bangsa Indonesia terpecah dalam dua kutub besar hari ini. Persepsi yang direkonstruksi oleh operator dari diskursus Islam dan non Muslim serta Kebangsaan dan Kebhinnekaan telah melahirkan vonis yang kejam sebagaimana halnya isu ras kulit hitam ciptaan Atwater.

Cara Atwater di masa lalu dengan mengedit penggalan konten narasi yang menohok lawan juga menular secara massif di Indonesia masa kini. Klip video dipotong-potong untuk mengambil bagian sensasionalnya. Bahkan di Indonesia cara demikian melampaui taktik jorok Atwater.

Bila Lee Atwater di masanya tidak menggunakan pernyataan langsung sebagai penghakiman (judgment) melainkan hanya mengirim sebuah kode berupa idiom lunak, tapi di Indonesia langsung menyerang ke inti yang ingin dipersepsikan. Idiom-idiom vonis “kafir” dan “intoleran” menyeruak di berbagai ruang nyata sosial dan maya digital di Indonesia.

Bahkan dua kutub yang saling berseteru sengaja dipancing untuk semakin bertindak lebih jauh. Semakin berani menyerang, baik nyinyir di sosial media, fitnah maupun saling ancam hingga berujung pada tindak pidana, semakin sukses tujuan operasi yang dilancarkan.

Mungkin, karena mendapat contoh brutalnya demokrasi Indonesia pada Pilpres 2014 yang saling serang dengan isu agama, bukan tak mungkin menjadi inspirasi Donald Trump untuk bertindak jauh lebih berani mengkotak-kotak masyarakat AS dalam polarisasi yang super tajam lagi di masa kampanye Pilpres AS 2016 sejalan dengan masa kampanye Pilkada DKI Jakarta.

Donald Trump dari Partai Republik seolah-olah murid terbaik Atwater di abad milenial. Konglomerat properti dan industri hiburan itu jauh lebih vulgar langsung menusuk di dua isu paling sensitif secara bersamaan: imigran kulit hitam dan sekaligus Islam sebagai ancaman keamanan. [] * Wakil Sekretaris Jenderal #GNKRIPusat

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *