Evaluasi Total Otsus Papua

Sangat disesalkan aksi-aksi yang berurutan dan terlihat sistematis dalam kasus Papua ini. Cara-cara lama yang masih digunakan, yaitu memainkan isu SARA. Sedangkan permasalahan pokoknya tak pernah terungkap secara jujur dan jelas. Tentu modus seperti ini tak bisa dibiarkan berlarut karena dampaknya bagi stabilitas nasional

“Segera evaluasi otonomi khusus Papua secara total. Semua pemangku kepentingan, baik di daerah maupun di pusat harus bersedia dievaluasi. Sudah begitu banyak anggaran, regulasi, kebijakan, program, dan tim-tim yang dibentuk, tapi kita belum punya hasil audit otonomi khusus”, ujar Ketua Umum GNKRI Marbawi A. Katon

“Evaluasi ini bisa diselesaikan sampai akhir tahun ini, sebagai langkah strategis penyelesaian masalah secara komprehensif. Jangan lagi parsial atau hanya kasuistik”, lanjut Marbawi.

Nilai Papua terletak pada kekayaan sumberdaya alamnya yang diperebutkan oleh kapitalis-kapitalis global maupun kaki tangannya di dalam negeri. Puluhan tahun telah berlangsung. Kini, ada upaya dari Pemerintah untuk mengkaji ulang struktur kepemilikan dan tata kelola. Tentu, ada reaksi dari kekuatan-kekuatan status quo.

Dalam jangka panjang secara sistematis, pembangunan sumberdaya manusia Papua harus menjadi perhatian utama sekaligus terintegrasi secara nasional. Ikatan-ikatan sosial dan budaya harus lebih dioptimalkan. Misal, para perantau di Papua, tunjukkan contoh berbahasa Indonesia, tidak lagi bahasa sukunya.

Semua elemen bangsa, apalagi elite harus menahan diri dari upaya-upaya yang memperunyam keadaan. Apalagi memainkan sentimen identitas secara tidak bertanggungjawab.

Secara garis besar, ras pribumi di NKRI adalah Austronesia dan Melanesia. Namun, dalam sejarahnya, semua ras dan bangsa berinteraksi secara mutual untuk kemudian sama-sama menjadi warga negara Indonesia dengan hak dan kewajiban yang setara. Hal ini harus menjadi pegangan bersama dalam kehidupan sosial yang adil dan beradab.

“Kita semua harus bersatu dalam keragaman sekaligus bersatu dalam keadilan. Kita tak ingin NKRI yang didirikan dengan ribuan dan jutaan nyawa ini harus kembali terpecah-pecah karena kedunguan dan keserakahan kita sendiri”, tutup Pendiri Pesantren Pancasila ini.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.