Revolusi Mental Ekonom(i) Kita

Oleh: Wahdat Kurdi/GNKRI

 

”Salah satu sisa kolonialisme yang menghambat kemajuan, yang mesti disapu selekas-lekasnya,” kata Bung Hatta, ”ialah inferioriteits complex, yaitu rasa diri-rendah.” Menurut Hatta, rasa rendah diri itu ditanam dalam jiwa rakyat kita oleh penjajahan yang berabad-abad lamanya. Karena amat berbahaya, ujar  Hatta, ia harus kita berantas sehabis-habisnya.

Rasa rendah diri itu bisa muncul dalam bermacam bentuk, di berbagai bidang. Salah satunya ekonomi. Tapi dalam hal ini bukan hanya rakyat Indonesia, bahkan nyaris seluruh warga dunia dijangkiti inferiority complex. Terutama sekali jika mereka dihadapkan kepada kapitalisme.

Setelah Tembok Berlin runtuh dan Uni Soviet bubar, laju kapitalisme semakin tak tertahankan. Apalagi pasca Cina masuk WTO pada tahun 2001.  ”Capitalisme Alone,” ujar Branco Milanovic menjuduli bukunya yang terkenal itu. Kapitalisme seng ada lawan.

Kapitalisme begitu berkuasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, dunia dikuasai sistem ekonomi tunggal. Gaya kapitalisme Cina, Amerika, Indonesia, atau negara-negara Nordik tentu berbeda-beda. Namun semuanya bersimpuh di hadapan singgasana kapitalisme yang sama.

Indonesia sejak masa pertengahan Orde Baru sudah menerapkan kapitalisme. Sampai kemudian, disadari fakta bahwa kapitalisme itu ternyata menimbulkan masalah kesenjangan dan konglomerasi. Maka diadopsilah sistem ekonomi kerakyatan. Menurut almarhum Mubyarto, guru besar ekonomi UGM, sistem ekonomi kerakyatan adalah Sistem Ekonomi Pancasila. Ekonomi kerakyatan sendiri tidak berumur panjang. Indonesia kemudian kembali lagi ke pangkuan kapitalisme, hingga saat ini.

Untuk mengatasi luka kapitalisme yang semakin menganga, para teknokrat ekonomi Indonesia meresepkan satu obat: liberalisasi total. Jadi, kesenjangan ekonomi, kemiskinan dan berbagai masalah yang bermekaran di alam kapitalisme itu bukan efek samping kapitalisme. Justeru karena kapitalisme tidak dikonsumsi bersama obat lain yang bernama liberalisasi total itu. Maka sampai pelosok kampung, apa pun harus diliberalisasi: pasar, politik, kalau perlu agama.

Namun, gara-gara Tiongkok, kemujaraban liberalisasi total itu menjadi sulit dibuktikan. Tiongkok  sukses mengadopsi kapitalisme dengan semata-mata meliberalisasi pasar, tanpa harus menelan pil liberalisasi politik. Ramuan ekonomi kapitalistik plus politik komunistik menyulap Tiongkok menjadi raksasa ekonomi dunia dalam sekejap, membuat kampiun kapitalisme Amerika Serikat cemburu sekaligus khawatir. Para teknokrat ekonomi kebingungan menjelaskan fenomena ini. Di waktu yang sama, negara-negara Barat penganut liberal ekstrim justeru harus berjuang menahan kebangkitan populisme dan sayap kanan.

Di saat negara lain baru mengalami adiksi kapitalisme, warga Eropa dan Amerika Serikat mulai capek dengan ideologi ini. Survey  terbaru yang diselenggarakan oleh Victims of Communism Memorial Foundation (VOC) tentang sikap warga Amerika Serikat terhadap sosialisme, komunisme dan kolektivisme cukup mengagetkan. Menurut survey tersebut, 70% milenial akan memilih kandidat sosialis. Jumlah milenial yang “benar-benar suka” kandidat sosialis berlipat dua dibandingkan tahun 2018. Persentase generasi milenial dan generasi Z yang masih suka kapitalisme menurun tinggal 50% saja. Sedangkan  generasi milenial yang menyukai komunisme meningkat menjadi 36%, padahal tahun 2018 jumlahnya hanya 28%.

Hidup dengan kapitalisme memang melelahkan. Tidak seperti yang dijanjikan oleh para pengusungnya, kapitalisme isinya “salah melulu”. Awal 1900-an, kapitalisme—dalam bentuknya yang radikal sebagaimana diteorikan oleh Adam Smith—masih digandrungi oleh banyak ekonom dan pemerintah terutama di Eropa Barat dan AS. Tetapi Great Depression memaksa kapitalisme memberi peran kepada pemerintah untuk campur tangan dalam perekonomian.

Jadi, karena teori kapitalisme Adam Smith keliru, ia harus mengalami revisi. Bahkan revisi yang sifatnya sangat fundamental: kapitalisme harus bergandeng tangan dengan intervensi pemerintah. Inilah yang disebut perekonomian campuran, bentuk kapitalisme yang digunakan di seluruh dunia saat ini.

Paul Samuelson, yang sering disebut ”Nabi-nya kaum kapitalis”, pengarang textbook ekonomi yang bukunya digunakan sebagai bahan ajar di banyak fakultas ekonomi termasuk di Indonesia menyatakan: ”Saat ini para pemimpin pemerintahan menyadari bahwa perekonomian modern menghadapi satu dilema makroekonomi, yaitu tidak satu negara pun dengan perekonomian pasarnya (maksudnya perekonomian campuran) berhasil mempertahankan tingkat inflasi yang rendah dan penggunaan tenaga kerja secara penuh dalam waktu yang cukup lama.” Jadi, penyokong kapitalisme yang paling alot sendiri pun selalu melihat adanya masalah dalam sistem ekonomi tersebut.

Ekonom Hernando De Soto, penulis buku yang cukup masyhur ”Mengapa Kapitalisme Berjaya di Barat dan Gagal di Mana-mana” pernah menyarankan begini: Kalau kita ingin memperbaiki perekonomian, yang harus dilakukan adalah menutup buku (textbook ekonomi) dan membuka akal sehat kita.

Jadi, mari kita buka akal sehat dan mulai percaya pada diri sendiri. Mari merevolusi mental kita dalam urusan ekonomi.

Jika akal sehat kita bekerja, pasti kita bertanya-tanya mengapa urusan-urusan ’sepele’ seperti keharusan ASN menggunakan peci dan sarung pada hari santri mesti diatur negara atau pemerintah, tetapi persoalan ekonomi—persoalan yang menyangkut nasib orang banyak—harus diserahkan kepada persaingan pasar? Siapakah ”pasar” itu yang sedemikian berkuasanya, sehingga kita harus tunduk kepadanya?

Mari camkan  amanat Bung Hatta agar kita menghapus selekas-lekasnya sifat rendah diri dan menganggap bangsa lain lebih hebat dalam masalah ekonomi. Meski perasaan inferior atau rendah diri itu adalah wajar, menurut Alfred Adler peletak dasar teori inferiority complex, namun ia akan menjadi gangguan jika sudah menjadi ”complex”: menguasai diri seseorang secara terus menerus, sambil memengaruhi pikiran sadar maupun tidak sadarnya. Jika tidak disembuhkan, lama-lama gangguan rendah diri itu akan menjadi penyakit kejiwaan yang amat serius: neurosis.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *