Saung dan Gerakan Kebangsaan yang Hilang

Penulis: Alfi Rahmadi
Wasekjen GNKRI 2017-2022

Filosofi yang dikandung dalam tradisi saung itu sangat dalam.Falsafah ini saya urai menanggapi narasi ringan Marbawi, Ketua Umum GNKRI dan Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka RI, dalam pesan WhatsApp (WA) yang beredar di social platform.

Ia menarasikan fungsi saung di pelataran area domisilinya di Taman Ayun, salah satu blok komplek Puri Bali di Sawangan-Depok.Ringkasnya, makna yang saya tangkap dari narasi itu: dalam saung ada egalitarian di sana, berdiri sama tegak dan duduk sama rendah. Ada rasa saling menghargai, tidak mencari panggung—dalam istilah sekarang “ngeksis”.

Meski para warga Taman Ayun dengan Kepala Keluarga puluhan orang itu adalah tokoh di lingkungan kerja dan pengabdiannya masing-masing, dari tokoh montir, pers, bank sampai politik, mereka melebur guyup: sama rasa.

Tak ada yang protes bila iuran lingkungan naik. Karena semuanya dikelola untuk kepentingan semua warga. Sudah seperti ritual sosial. Di saung itulah semua permasalahan warga diputuskan. Prinsipnya selain demokrasi, juga gembira.

Bukan kebetulan segala kegiatan ibu ibu digelar di saung, khususnya ajang masak bersama dalam nuansa riang. Dan itu rutin digelar.Tidak ada kepastian jadual kapan santapan bersama digelar, melainkan ditentukan oleh kerinduan makan bersama semua warga.

Simaklah: dalam nuansa sedemikian itulah akar tunjang soliditas terpupuk. Dalam saung sangat cair nuansanya. Selalu ditemani kopi, cemilan ala kadarnya, diselingi dengan rokok bagi perokok. Karena sesungguhnya demokrasi memang mesti diselenggarakan dengan riang gembira—dalam arti aman, damai dan sejahtera—bukan intrik dan intimidasi; benih permusuhan dan kemiskinan itu.

Sadar atau tidak, warga Taman Ayun ini nampak mengembalikan kearifan lokal Saung. Di masa lampau, hampir seluruh komponen masyarakat lokal zaman Hindia Belanda punya tradisi saung. Istilah saung itu sendiri diambil dari tradisi Sunda di pematang sawah. Masyarakat Melayu biasa menyebutnya “pondok”, berdiri di tengah atau pinggir ladang.

Dalam peradaban agraris Nusantara, saung memang tak sekedar tempat istirahat dan menyantap makanan usai menggarap sawah dan ladang. Saung turut menjadi titik temu antar kepala keluarga dan antar keluarga yang pematang sawahnya berdekatan.

Saung menjadi salah satu sentral tukar pikiran.Topik yang dijangkau amat luas. Bahkan sering kali tak terduga tergagas inisiatif segar dalam memecah yang buntu dan mendorong yang macet dari setumpuk permasalahan di desanya. Sering sekali hasil obrolan santai itu kelak dibawa ke rapat balai desa.

Kelak, di zaman modern, betapa banyak para pakar psikologi eksperimental mengungkap teori pemecahan masalah ala saung itu. Justru sering sekali tuntas ketika membahas hal ringan yang sama sekali tidak berkaitan dengan pokok masalah.

Di sanalah kearifan saung: ada kejernihan berfikir, bernalar dan berperasaan, berkat egaliteran dan saling menghargai. Nampak tak ada beban saat memecah persoalan yang seringkali diawali dengan naunsa penuh keakraban, sepenanggungan.

“Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Itulah peradaban saung. Bukan kebetulan nuansa dan falsafah saung ini memercik api gerakan perjuangan kebangsaan modern Indonesia yang terkonsolidasi dan terorganisir.

Penggunaan falsafah saung begitu nampak dioptimalkan HOS Cokroaminoto (1882-1934), tokoh besar penanam ide dan gagasan pergerakan modern kebangsaan Indonesia.Di pelataran dan beranda rumah HOS.Cokroaminoto di Gang Paneleh VII Nomor 29-31 di tepi Sungai Kalimas, Surabaya, menjadi titik temu para tokoh besar kebangsaan sebagai tempat bertukar pikiran.

Para tokoh besar yang kerap berkunjung itu antara lain KH Ahmad Dahlan (1868-1923), KH Mas Mansyur (1896-1946), Haji Agus Salim (1884-1954). Tak terkecuali pendiri NU: KH. Hasyim Asy’ari (1875-1947). Termasuk, pendiri _Syubbanul Wathan_ (Pemuda Tanah Air) cikal bakal Gerakan Pemuda Anshor, KH. Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971).

Mereka semua adalah para pengurus dan penasehat Central Sarekat Islam (SI) dibawah kepemimpinan HOS Cokroaminoto. Termasuk, anggota Mu’tamar Al-Islam Hindia Belanda, sebuah forum konsolidasi pemikiran dan pergerakan Islam, digelar secara berkala sejak 1922, dipimpin oleh HOS.Cokroaminoto.

Buya Hamka berkisah, HOS Cokroaminoto ditunjuk sebagai Ketua Mu’tamar berkala dwi dan triwulan setiap tahun itu karena mampu menjembatani kubu Islam modrnis dan tradisionalis.Mustahil kemampuan menjadi penengah tanpa karakter egaliterian.

SI memang bukan organisasi pergerakan Indonesia modern pertama di zaman Hindia Belanda.Tapi terbesar pertama. Pembeda mencolok dengan Boedi Utomo—organisasi pertama tersebut—SI yang dikonsolidasi dan diorganisir HOS.Cokroaminoto melakukan ideologisasi silang (cross ideology). Makanya organisasinya menjadi “rumah besar”, tempat segala kelompok bernaung.

Bila terjadi deadlock pada forum-forum formal, baik di SI maupun Mu’tamar Al Islam, beberapa kali juga dituntaskan di beranda rumah HOS Cokroaminoto dalam nuansa santai lazimnya saung. Suharsikin, istri HOS.Cokroaminoto harus bolak-balik menyeduh kopi buat para tamu yang datang silih berganti. KH. Agus Salim paling doyan nyeruput kopi. Karena di antara para tokoh besar itu beliau perokok ulung dengan khas rokok kreteknya.

Dana untuk melayani tamu/peserta pertemuan informal itu antara lain dari uang sewa asrama yang dikelola istri HOS Cokroaminoto. Atau urunan seperti yang dilakukan Ahmad Dahlan, Mas Mansur dan Agus Salim. Para penghuni asrama itulah para murid Cokro.

Yang paling menonjol: Soekarno (1901-1970), Kartosoewirjo (1905-1962) dan Semaun (1899-1971). Kelak tiga murid satu asrama itu saling bertentangan tajam dalam menafsirkan ajaran sang suhu dengan mendirikan organisasi politik masing-masing. Padahal harga sewa asrama sama-sama sebelas perak!

Soekarno mendirikan PNI pada 1927. Kartosoewirjo mendirikan DI/TII 1942 dan mendeklarasikan Negara Islam Indonesia (NII) 1949. Semaun mengukuhkan Perserikatan Komunis Hindia pada 1920 melalui kongres Indische Social-Democratische Vereeniging (ISDV), cikal bakal PKI. Kelak para pentolannya dikuasai Alimin Prawirodirjo (1889-1964), Musso (1987-1948) dan Tan Malaka (1987-1949). Tiga pemuda ini juga berguru di “padepokan” HOS.Cokroaminoto.

Buya Hamka yang beberapa kali hadir dalam materi pengajaran HOS.Cokroaminoto menyebut para penimba ilmu itu “kursusisten” atau peserta kursus. Buya Hamka menuturkan situasi para penghuni asrama dan tamu-tamu maha guru besar itu dalam buku biografi karya Amelz. Judulnya, “H.O.S Tjokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya”, terbitan Bulan Bintang, Jakarta, 1952.

Bisa dibayang: betapa “angker” kesejarahan “saung” milik HOS Cokroaminoto di Gang Paneleh VII itu. Terpantul percikan pemikiran tiap murid dan para tamunya kelak menjadi genelogi pemikiran Kebangsaan modern dari dua DNA: nasionalis sekular dan nasionalis Islam dengan alirannya masing-masing.

Yang nasionalisme sekular, haluannya sosialisme dan komunisme. Yang nasionalis Islam, ada tradisionalis dan modern yang kelak berkembang menjadi post tradisional dan post modern melalui jalur hibrida atau jalan tengah.

Tradisi saung kemudian sangat berkembang di warung-warung kopi, di pelataran asrama mahasiswa atau kontrakan dan di rumah para tokoh lainnya. Ini sejalan dengan meningkatnya animo kebangsaan Indonesia pasca Sumpah Pemuda 1928.

Di zaman pra kemerdekaan, nuansanya begitu guyub laksana di saung sekalipun situasi negeri sangat memprihatinkan. Kaum aktivis dan intelektual tak bakal kelaparan. Inilah yang dialami Chairil Anwar. Penyair besar dan pelopor Angkatan 1945 ini hidupnya gelandangan di Jakarta meskipun menumpang di rumah pamannya: Sutan Syahrir.

Dari saung ke saung atau tempat singgah santai, Chairil Anwar pun pernah melukiskan spirit soliditas saung dan dinamika pertemuan informal sampai menjelang pagi yang menggetarkan gerakan kebangsaan di salah satu puisinya:

Kita guyah lemah Sekali tetak tentu rebah
Segala erang dan jeritan
Kita pendam dalam keseharian
Mari tegak merentak
Diri-sekeliling kita bentak
Ini malam purnama akan menembus awan.
(22 Juli 1943)

Di abad kini, kearifan lokal saung betul-betul terkikis di kalangan kaum aktivis dan intelektual. Khususnya mereka yang menempuh jalan sebagai politisi atau partisannya. Kemandirian civil society dicabut akarnya. Dari mulai organisasi keagamaan, kedaerahan, buruh, profesi, almamater sampai kepemudaaan/kemahasiswaan.

Predator politik itu–meminjam istilah Marbawi–mencabutnya dengan dua cara umum. Kalau tidak bisa diminta baik-baik, dirampas sebagian. Karena itu komponen civil society kita pecah terus. Selain ulah predator politik yang disokong oleh kaum kaya raya penguasa aset kekayaan alam negeri, keterpecahan itu juga akibat kearifan lokal saung yang terpecah.

Keterpecahannya: saung kini hanya dijadikan tempat tak bergerak melalui tradisi kongkow di tempat-tempat santai; baik aktivis organisasi patembayan maupun paguyuban.Memang penuh ide dan gagasan tapi tak lagi strategis, tajam, terkonsolidasi dan terorganisir rapi. Dalam tradisi pesantren modern, hanya tajammu’ semata sekalipun dalam bingkai silaturrahmi.

Sebabnya: tak ada lagi egalitarian, saling menghormati, atau tumpulnya visi yang meniupkan roh perjuangan terorganisir.Masing-masing cari panggung alias ngeksis: ingin didengar tapi sulit mendengar. Ini memang sejak dulu jadi patologi manusia.

Bicara itu mudah. Sebab saat berbicara memenuhi pelepasan energi. Cendikiawan besar Mohammad Iqbal dalam karyanya “The Reconstruction of Religious Thought in Islam disebut super ego. Tapi mendengar itu sulit, justru karena mengendalikan energi. Tak lupa, Nurcholis Madjid (Cak Nur) jauh hari mewanti-wanti: salahsatu tantangan terberat demokrasi Indonesia pasca 1998 adalah belajar kedewasaan bicara dan mendengar.

Pelepasan energi super ego kian tumpah ruah karena menemukan kolamnya berupa oligarki politik-ekonomi pada kelembagaan formal maupun non formal. Makin ke sini-sini, oligarki ini sudah mengeras menjadi batu. Hingga pada pertemuan informal laiknya di saung sekalipun, masing-masing pun ingin memimpin, tak mau dipimpin. Segalanya dibingkai oleh motivasi dapat peran apa dan dapat apa.

Tak berlaku lagi falsafah saung “berat sama dipikul ringan sama dijinjing” karena kuatnya motivasi tersebut. Yang berbahaya: hanya mau memikul yang ringan saja tapi mau memetik untung banyak. Pada akhirnya, solidaritas dalam saung bergeser menjadi soliter.[] #GNKRIPusat

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *